Home Galery Video Live Streaming
Kategori
PERISTIWA PEMERINTAHAN Pendidikan Kriminal Ekonomi Bisnis Daerah Politik

Bukan Kecewa, Tapi Sudah Tak Pas. Pendapat Gus Hisyamuddin Soal Kepindahan KH Slamet Anwar ke PSI

Bukan Kecewa, Tapi Sudah Tak Pas. Pendapat Gus Hisyamuddin Soal Kepindahan KH Slamet Anwar ke PSI
Bagikan:

Kabarpo.com, Lampung Tengah — Perpindahan KH Slamet Anwar ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) terus memicu perhatian publik. Sejumlah spekulasi pun bermunculan, mulai dari dugaan kekecewaan terhadap Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) hingga Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Namun, anggapan tersebut ditepis oleh Gus Hisyamuddin. Ia menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan dilatarbelakangi kekecewaan, melainkan persoalan kecocokan dalam berpolitik.

“Bukan karena kecewa. Tapi mungkin memang sudah tidak pas lagi,” ujar Hisyamuddin, Minggu (12/4/2026).

Menurut dia, perpindahan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam dinamika kehidupan publik.

Ia menilai, langkah tersebut tidak perlu dipandang sebagai konflik atau drama politik.

“Ini bukan drama politik. Dalam perjalanan, wajar kalau ada yang merasa kurang cocok dan memilih jalan baru,” katanya.

Hisyamuddin menilai, keputusan untuk berpindah haluan justru menunjukkan keberanian seseorang dalam menentukan arah politiknya.

Dalam konteks tersebut, politik bukan sekadar soal loyalitas, tetapi juga tentang menemukan ruang yang paling sesuai dengan nilai dan tujuan masing-masing.

Pernyataan ini sekaligus meredam narasi yang berkembang bahwa kepindahan Slamet Anwar merupakan bentuk kekecewaan terhadap partai sebelumnya.

Di sisi lain, Hisyamuddin menegaskan bahwa hubungan personal dan nilai-nilai pesantren tetap dijaga.

Sebagai junior di lingkungan Pondok Pesantren Darussalam Pare, ia menekankan pentingnya adab dalam menyikapi perbedaan pilihan.

“Kami tetap hormat kepada beliau. Komunikasi dan silaturahmi tetap jalan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan sikap politik tidak boleh merusak ukhuwah yang selama ini dijunjung tinggi di lingkungan pesantren.

Pernyataan “sudah tidak pas” yang disampaikan Hisyamuddin memunculkan pertanyaan lebih jauh.

“Apakah langkah tersebut sekadar pilihan personal, atau menjadi sinyal adanya pergeseran yang lebih luas di kalangan tokoh pesantren?”

Dia juga mengklaim sejumlah pengamat dan aktivis pesantren, termasuk dari lingkungan Pesantren Darussaadah Lampung Tengah, menilai fenomena ini sebagai bagian dari dinamika yang terus berkembang.

“Yang jelas, fenomena ini menegaskan satu hal, dalam politik, bertahan bukan satu-satunya pilihan,”

“Menemukan tempat yang paling sesuai kerap menjadi pertimbangan utama bagi para pelaku di dalamnya,” tutupnya. (Skt)